Discoblack-white.net – Penggawa Bayern Munich, Joshua Kimmich, menyerukan desakan kepada timnya untuk turut beraksi guna memprotes kematian George Floyd.

Seorang pria kulit hitam di Amerika Serikat (AS). Sebab, Kimmich merasa para pesepakbola bisa memegang peran penting dalam menghentikan aksi rasisme di dunia.

Sejumlah pesepakbola yang mentas di Liga Jerman sendiri diketahui sudah turut menyuarakan rasa simpatik terhadap kasus kematian George Floyd.

Beberapa di antaranya ialah Jadon Sancho, Achraf Hakimi, Weston McKennie, dan Marcus Thuram yang seluruhnya dilakukan pada akhir pekan ini.

Baca Juga: Solidaritas Jadon Sancho layak di beri Pujian bukan Hukuman

jadon-sancho-for-george-floyd

Kimmich pun merasa Bayern perlu turut melakukan hal yang sama seperti pemain-pemain tersebut.

Para pemimpin Bayern sendiri kabarnya kini telah membahas kemungkinan untuk ikut menunjukkan aksi untuk George Floyd ketika mereka menghadapi Bayer Leverkusen pada akhir pekan ini dalam lanjutan Liga Jerman 2019-2020.

Ungkap Joshua Kimmich

“Sebagai pemain sepakbola, Anda memiliki kekuatan besar di dunia ini. Pendapat saya adalah kita harus memikul tanggung jawab ini dan mengatakan sesuatu seperti yang dilakukan Sancho.

Sangat bagus bahwa itu tidak hanya dilakukan oleh satu pemain,” ujar Kimmich, sebagaimana, Kamis (4/6/2020).

“Mungkin, itu juga merupakan pilihan untuk bersikap sebagai tim. Kita adalah satu kesatuan di dunia, satu klub, satu tim sepakbola.

Tidak masalah jika Anda hitam atau putih. Kami sebagai pemain sepakbola, seperti halnya Sancho, memiliki kekuatan besar untuk menjangkau orang lain, menjadi panutan, dan mengatakan sesuatu,” lanjutnya.

“Apa yang kita katakan kepada orang-orang di luar memberi kita peluang besar untuk membuat penegasan. Kami membahasnya dan mungkin kami bisa melakukan sesuatu.

Kami mungkin bertindak dengan melakukan sesuatu karena kami tidak bisa membiarkan hal seperti itu,” tutur Kimmich.

Kasus kematian George Floyd di AS kini memang tengah mendapat perhatian besar dari masyarakat dunia.

Floyd diketahui meregang nyawa akibat lehernya ditindih oleh lutut seorang perwira polisi AS. Peristiwa itu terjadi pada Minggu 25 Mei 2020.

Meski Floyd sudah memohon agar polisi melepaskan lutut dari lehernya, hal tersebut tak juga dilakukan hingga akhirnya ia tewas.

Kasus ini bahkan telah memicu protes keras dari masyarakat AS yang berujung kericuhan.