FCB

Discoblack-white.net – Pemain Barcelona mengambil keputusan dengan memotong gaji bulanan mereka sebesar 70% untuk membantu Club tetap berjalan di tengah Krisis virus corona.

Barca bukan yang pertama melakukannya, tapi jelas diperlukan.

Proses pemotongan gaji ini sempat menimbulkan polemik karena terlalu lama. Pemain Barca dituding menolak gagasan tersebut, sampai akhirnya Lionel Messi muncul dan membantah tudingan tersebut.

Sekarang, sang presiden, Josep Maria Bartomeu, menjelaskan mengapa mereka menyepakati angka 70%. Jumlah itu cukup besar bagi para pemain, tapi ternyata terbilang kecil untuk menjaga keberlangsungan klub.

Baca Juga: Juventus Batal Merekrut Nicolo Zanilo Tahun ini lantas kapan?

70 Persen = 16 Juta Euro

Pemotongan gaji itu merupakan langkah terbaik untuk melindungi ratusan staf Barcelona lainnya yang mungkin tidak seberuntung para pemain. Gaji pesepak bola sangat besar, tapi gaji pembersih stadion jelas kecil.

Kesenjangan itulah yang coba diatasi dengan pemotongan gaji. Singkatnya, para pemain membantu klub membayar gaji staf-staf kecil yang menggantungkan hidup mereka pada klub.

“Para pemain bakal memotong gaji bulanan mereka sebesar 70 persen dan ditambah dua persen lainnya untuk membantu pekerja non-olahraga.

Barca bakal membayar sebagian gaji mereka, tapi para pemain bakal menggenapinya jadi 100 persen,” ujar Bartomeu kepada Sport.

“Pemain juga bakal kehilangan 5,75 persen dari pendapatan tahunan mereka selama setiap bulan darurat. Klub bakal menghemat sampai 14 juta euro dari sepak bola dan 2 juta euro dari tim-tim lainnya.”

“Artinya, kami menghemat 16 juta euro di setiap bulan selama masa-masa darurat di Spanyol,” sambungnya.

Mengapa 70 Persen?

Tentu angka 70 persen itu tidak muncul tiba-tiba. Pihak klub sudah menghitung total pengeluaran dan pendapatan mereka, lalu mencapai kesimpulan bahwa pemotongan gaji sebesar 70% merupakan yang paling ideal.

“Itu adalah jumlah yang kami rasa memadai. Mereka masih bekerja dari rumah, 30 persen di rumah, 70 persen untuk apa yang tidak bisa mereka lakukan di lapangan,” imbuh Bartomeu.

“Sejak 14 Maret, kami tidak mendapatkan pemasukan. Tidak ada penjualan tiket, akademi ditutup, tidak ada pertandingan, tidak ada apa pun.”

“Sekarang kami harus mencoba mengelola pengeluaran kami. Ketika segalanya berjalan normal lagi, barulah kami menghitung seberapa besar kerugian kami,” tutupnya.